Minggu, 15 Januari 2017

Road Tour Sunrise of Java #4 (TN Baluran)

Road Tour Sunrise of Java #4 (TN Baluran)


25 Desember 2016

Yeah, selepas mendaki Gunung Kelud via Tulungrejo Blitar, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Sunrise of Java. Saat itu, kami dalam perjalanan malam dengan kondisi jalan berkelok-kelok naik-turun, serta masih lelah mendaki dan belum istirahat dengan layak di Portal pendakian. Selain itu, kami juga lapar. Yeah, kondisi yang cukup berbahaya jika dipaksakan untuk perjalanan jauh. Kulihat persediaan bahan bakar untuk Sheggy juga sudah menipis. Saat itu kami sepertinya berada di daerah hutan yang dibelah jalan raya pare-batu. Karena malam aku tak begitu memperhatikannya. Jalannya berliku. Banyak plang rawan longsor. Langka SPBU. “Tamatlah riwayat kami hahaha” pikirku. Apalagi bus-bus malam dan pariwisata suka mengambil lajur yang berhadapan kami hanya untuk mendahului kendaraan di depannya. Kelar dah hidup gua hahaha. Beruntung Sheggy masih mampu melaksanakan tugasnya. Kami sampai di daerah Pujon, Kab. Malang. Cukup ramai malam itu. Kami pun membeli bensin eceran di sebuah warung. Tepat di seberang warung terdapat masjid.

Yeah, kuputuskan saja untuk istirahat, sholat Maghrib dan Isa’. Lalu, masak mie dengan kompor portable di masjid itu. Masjid itu begitu nyaman membuat kami betah *Efek ada colokan nganggur wkwkwk.  Karena masjidnya berada tepat di kaki gunung, rasanya angin malam itu begitu dingin. Ah lebih baik tidur disini saja, kemudian lanjut jalan esok hari hehe.

26 Desember 2016

Pagi itu masih gelap. Kami bangun, cuci muka kemudian lanjut jalan lagi. Sampailah kami di Kota Batu, Malang. Kami mampir di Alun-Alun Kota Batu untuk mencari makan. Lalu muter-muter sebentar di alun-alun yang terdapat bianglala dan rumah apel sebagai iconnya itu. Sayang, kami datang terlalu pagi dan masih gelap. Jadi, tak banyak selfie yang bisa dilakukan wkwkwk.



Saat kami sudah berada di Kota Malang. Adzan Subuh mulai berkumandang. Tak lupa kami menunaikannya di salah satu mushola SPBU terdekat. Di Kota Malang, kami hanya melewatinya saja karena tujuan kami adalah ke kota paling timur Pulau Jawa. Jika mampir-mampir lagi, pasti akan memakan jarak dan waktu yang lebih panjang dan dimarahin kesayangan yang mulai bawel hehe.

Dari Kota Malang, kami melaju ke arah utara melewati Singosari – Lawang. Dipertigaan Purworedjo, kami mengarah ke Pasuruan. Lalu mengikuti jalur Pantura – Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi. Setelah kota Probolinggo, kami melewati komplek PLTU Paiton, PLTU terbesar di Indonesia yang memasok listrik utama untuk Pulau Jawa dan Bali. Jalur ini mengingatkanku sewaktu KKL ke Bali. Saat itu, aku melewati jalur ini pada malam hari. Polusi cahaya begitu jelas. Mungkin gemerlap lampu-lampu PLTU mungkin lebih indah daripada gemerlap dunia malam hehe. Beda sekali ketika melewati saat siang hari. Namun, hamparan laut selat Madura bisa terlihat dengan jelas. Selain itu, gunungan hitam batu bara siap diproses menjadi uap sehingga menghasilkan listrik. Setelah melewati komplek PLTU Paiton, jalan begitu dekat dengan air laut. Pepohonan mangrove membentuk kanopi sehingga meneduhkan kami di panasnya siang hari. Perjalanan dari Besuki – Situbondo terasa begitu jauh. Mungkin kami sudah cukup lelah. Kami beberapa kali beristirahat sebentar.

Akhirnya kami memasuki kawasan hutan Taman Nasional Baluran. Di pinggir jalan banyak sekali monyet liar yang menanti makanan dari buangan pengguna jalan. Namun, monyet di pinggir jalan ini terkesan pemalu dari sikapnya ketika didatangi manusia. Jalan pantura di tengah hutan TN Baluran ini begitu panjang dan sepi. Aku juga selalu waspada akan tindak kejahatan seperti ancaman begal. Banyak kasus seperti itu disini. Aku pun mengantisipasi dengan melewatinya pada siang hari. Namun, modus kejahatan bisa dalam bentuk apa saja. Yeah, ketika Road Tour Sunrise of Java ini, kami dicegat oleh bapak-bapak gendut yang mengendarai vario putih. Dia ngakunya orang Sidoarjo, tapi platnya P :p. Dia menyuruh berhenti kami. Dia minta tolong karena kehabisan bensin. Yeah, tau sendiri kan panjangnya jalur ini pasti tidak ada SPBU. Warung pun tak bisa dijumpai sama sekali, mungkin warung hanya di dekat Waduk Bajulmati yang tak sempat kami singgahi. Jadi, siapa yang tidak iba L. Setelah kami berhenti, dia langsung menawari jamnya untuk dibeli. Ah, sudahlah ini bapak-bapak pasti tukang tipu. Modus seperti ini mah sudah sering kutemui di terminal, stasiun, jalanan dan tempat umum. Langsung saja, aku menggeber motor dan menolak secara halus dengan alasan kami perjalanan jauh dan tak punya uang lebih. Tadinya aku berhenti sekalian mau ngecek bensin si bapak-bapak itu emang habis beneran atau enggak. Tapi setelah dipikir-pikir ngeri juga kalau tiba-tiba diserang pakai senjata tajam ya Wassalam hehehe. Untung dia dalam posisi sendiri. Mungkin lain kali jika Junkrikers lewat jalur ini harus waspada segala bentuk kejahatan ya J. Jangan berhenti sembarangan hanya untuk buang air kecil juga karena bahaya. Tetap melaju sekencang mungkin. Tapi @masjunkrik sih tetep selow karena Sheggyku cuman Shogun 125cc tahun 2007an hahaha.




Pukul 10.30, kami tiba di Gerbang Taman Nasional Baluran, sebelum perbatasan Situbondo – Banyuwangi. Setelah memasuki gerbang, kami harus membayar tiket masuk di Pusat Informasi. Tiket tersebut kami bayar Rp. 43.000,- untuk dua orang dan satu motor. Lalu di parkiran Pantai Bama membayar parkir motor Rp. 2.000,-.




Siang itu begitu panas sampai menyentuh ubun – ubun. Namun, tak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi Savana Bekol yang terkenal sebagai Africa van Java dan Pantai Bama nan Alami habitat monyet liar. Perjalanan menuju Savana Bekol ditempuh dengan jarak 12 km dari pusat informasi. Kemudian dilanjutkan ke pantai Bama sejauh 3 km. Jalan yang dilewati adalah aspal yang sudah rusak berat hingga makadam atau batu-batuan sampai tanah. Bisa dibilang offroad dan tentu saja menyiksa Sheggy. Sepanjang jalan juga masih dijumpai monyet-monyet liar yang masih malu-malu. Sempat bertemu dengan ayam hutan juga. Selain itu berbagai kicauan burung menyambut kedatangan kami. Selepas km ke-6, kami melewati Evergreen yang konon vegetasinya selalu hijau meski di musim kemarau. Di Evergreen ini, pepohonan tinggi menjulang dan membentuk kanopi yang membuat siang yang panas panas menjadi teduh. Konon juga, pada malam hari, di tempat ini dapat dijumpai macan tutul :D. yeah, semoga saja kepulangan kami dari sini tidak kemalaman. Bahaya kalau malam-malam tiba-tiba ban motor bocor lalu disergap macan yang sebenarnya, kelar hidup gua *ini bukan mama cantik loh ya :D.




 





45 menit kemudian, kami sampai di Savana Bekol. Yeah, pemandangan luar biasa indah.  Kami datang di saat musim hujan dimana savana terlihat hijau dengan latar Gunung Baluran yang gagah di kejauhan. Mungkin, lain kali kami harus datang lagi di musim kemarau. Pastinya lebih keren lagi karena savana akan kering menguning seperti di Afrika. Maka tak heran jika Savana Bekol disebut Africa van Java ata Little Africa of Java J. Di tengah-tengah savana terlihat kelompok rusa dan kerbau liar mencari rumput dan berkubang lumpur. Sayang, sang maskot Taman Nasional Baluran yaitu Banteng Jawa tidak nampak. Selain itu monyet-monyet disini rada usil meminta makanan para pengunjung. Kami juga menyempatkan diri naik ke gardu pandang untuk melihat keindahan Savana bekol dari ketinggian. Tak percuma lelah meniti tangga gardu pandang pun dibayar dengan jelas keindahannya. Disisi timur tampak jejeran pantai Bama dan sekitarnya menghadap Selat Bali. Sedangkan disisi barat, Gunung Baluran masih menyimpan misteri akan keliarannya. Yeah, penuh misteri karena jarang ada yang melakukan pendakian kesana. Bahkan informasi pendakian Gunung Baluran di internet pun kebanyakan fake. Setelah bertanya-tanya pada petugas, ternyata Gunung Baluran bisa didaki namun harus ditemani oleh pemandu. Entah, berapa tarifnya, karena aku lupa untuk menanyakannya L. Mungkin suatu saat aku harus mencobanya hehe. Tentu saja dengan persiapan yang lebih matang dan dalam kondisi prima karena tantangan medan yang akan dihadapi sangat berat meskipun ketinggiannya hanya 1247 mdpl. Serta membawa gear yang mumpuni untuk mendokumentasikan keindahannya hehe.


 





 



Puas meresapi Savana Bekol, kami lanjut menuju Pantai Bama. Disini fasilitasnya lengkap, mulai dari resort, wc umum, warung makan dan mushola sehingga kami bisa menyempatkan diri untuk sholat Dzuhur. Banyak yang bisa dilakukan di Pantai berpasir putih ini. Seperti berenang dan snorkling karena airnya jernih dan tanpa ombak, menyaksikan sunrise pertama dan terbaik di timur pulau jawa, jelajah pantai dan mangrove trail dan bersantai-santai. Tapi jangan terlalu terlena dengan itu semua. Hati-hati terhadap barang bawaan karena semakin di area pantai monyet-monyet pun semakin ganas menyerang untuk meminta makanan. Tipsnya sih bawa tongkat kayu saja supaya monyet-monyet liar tidak berani mendekat. Apalagi monyet-monyet disini memiliki taring. Serem deh pokoknya kalau lagi marah :D. Aku pun sempet beradu gertakan sama salah satu monyet yang paling besar. Dia hampir saja mencuri barang bawaan ketika kami asyik berenang di Pantai. Nyalinya pun cukup besar. Alhasil tak ada yang mundur diantara kami. Kami beranjak dari pantai menuju ke mangrove trail. Lalu bilas dan mandi. Setelah mandi kami tak lupa untuk Sholat Ashar. Kemudian keluar dari Taman Nasional Baluran untuk menuju destinasi kami selanjutnya yaitu Kawah Ijen.

Sialnya, baru beberapa meter kami berjalan turunlah hujan. Padahal di kejauhan cuaca masih terlihat matahari sore. Di Savana Bekol malah tidak turun hujan. Namun, baju kami sudah basah hahaha. Memasuki kawasan Evergreen, kami diguyur hujan sangat deras. Jalanan berubah menjadi genangan air dan lumpur. Sungguh berat perjalanan kami keluar dari sini. Apakah sang dewa monyet marah dan tak merestui kepulangan kami? Satu jam kemudian kami baru sampai di pintu keluar Taman Nasional Baluran. Yeah, semoga saja jalan di Taman Nasional Baluran tetap offroad seperti ini, karena jika beraspal mulus pasti akan lebih banyak orang yang berkunjung sehingga ekosistem hewan-hewan liar akan terganggu. Hujan sudah reda. Kami makan dulu di Sidodadi. Lalu menuju Kota Banyuwangi. Kemudian lanjut ke Kawah Ijen.


Salam Jun_krikers J

Sabtu, 07 Januari 2017

Road Tour Sunrise of Java #3 (Pendakian Gn. Kelud via Tulungrejo, Blitar)

Road Tour Sunrise of Java #3 


24 Desember 2016

Yeah, setelah perjalanan panjang dan melelahkan (Simpang Lima Gumul, Pantai Kedung Tumpang, Istana Gebang dan Makam Bung Karno) tiba juga waktunya untuk istirahat. Tetapi bukan istirahat biasa, karena kami harus mendaki sebuah gunung lebih dulu wkwkwk. Barangkali memang kami nggak punya udel :D. Pendakian kali ini termasuk dalam rangkaian Road Tour Sunrise of Java yaitu mengunjungi tempat-tempat wisata yang dimulai dari bagian barat Jawa Timur hingga finish di bagian timur Jawa Timur.

Yeah, setelah kami mengunjungi makam Bung Karno di Kota Blitar, kami akan mendaki Gunung Kelud via Tulungrejo, Kab. Blitar. Rute nyheggy kami melewati Mlingi kemudian berbelok ke utara menuju arah Kota Batu. Perjalanan cukup lancar hingga jalur letter S yang tajam, rusak dan berpasir di wilayah perkebunan teh. Cukup menyulitkan karena kami beriringan dengan truk pasir. Selanjutnya lancar-lancar saja sampai di pertigaan Tulungrejo. Di pertigaan tersebut kami belok kiri. Kemudian beberapa meter dari pertigaan tadi, belok kanan lurus terus sampai Portal khusus para pendaki Gunung Kelud via Tulungrejo. Yeah, disinilah titik awal pendakiannya. Terdapat lahan parkir yang luas serta bangunan milik Perum Perhutani KPH Blitar untuk beristirahat. Di parkiran, kami berbincang-bincang dengan ranger yang agak terkesan dengan kami yang datang dari jauh hehe. Katanya sih, rata-rata yang mendaki hanya pendaki dari Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang dan Surabaya. Mereka juga bercerita bahwa ketika letusan dahsyat Febuari 2014 lalu, tidak berdampak pada desa ini. Sedangkan di daerahku terkena hujan abu yang sangat tebal dan tidak hilang berhari-hari hehehe. Atas dasar letusan dahsyat itulah aku ingin sekali mengunjungi Kawah Gunung Kelud ini. Menyaksikan sisa erupsi serta menyapa sudut keindahannya di berbagai sisi.


Langit sore hari itu terlihat murung dan dipastikan akan turun hujan. Sebelum hujan kami pamit dulu untuk sarapan di pertigaan Tulungrejo karena disini belum ada warung makannya. Yeah, disini masih terkesan kesederhanaannya karena baru dikelola beberapa tahun belakangan mengingat tingginya minat wisata alam khusus pendakian gunung hehe. Makan di daerah Tulungrejo sangat murah. Bahkan aku terheran-heran dengan nasi prasmanan porsi kuli dengan lauk sayur tahu tempe untuk dua porsi hanya Rp. 10.000,- ? hahaha kalau di Jakarta, ini mah udah lawak beneran :D.

Setelah sarapan, kami lanjut ke portal pendakian tadi. Disini kami diharuskan membayar registrasi pendakian sebesar Rp. 5.000,-/orang serta parkir motor Rp. 10.000,-. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas ojek yang mengantarkan kami menuju pintu rimba Gunung Kelud pulang pergi. Memang pintu rimba cukup jauh. Dengan adanya ojek itu dapat mempersingkat waktu pendakian. Hujan akhirnya turun juga. Para ranger menyarankan kami untuk mendaki setelah hujan reda saja. Dan itu diamini oleh kami. Sebelum mendaki, kami sempatkan diri untuk Sholat Maghrib dan jama’ Isa’ di mushola. Petang itu begitu sepi. Nampaknya hanya kami berdua saja yang akan mendaki. Sedangkan beberapa pendaki sudah nanjak siang hari. Padahal hari itu adalah hari libur natal hehe.


Hujan sudah reda. Menyisakan rintik kecil saja. Tetapi kami tetap akan mendaki. Tentu saja menggunakan jas hujan agar tidak basah. Pukul 18.30, kami diantar ojek menuju pintu rimba. Jalan menuju pintu rimba ini sudah beraspal dan mulus. Pintu rimba akan ditandai oleh gubuk di kanan jalan. Sedangkan pintu rimba berada di balik lapangan atau di sebelah kiri jalan. Di pintu rimba ini, sang ranger memperingatkan kami untuk berhati-hati dan berdo’a dulu. Senter kami sudah dinyalakan. Bersiap untuk mendaki. Lagi-lagi sang ranger bilang,” Sentermu kok, koyo ngono mas?”. “iki terang kok mas,”jawabku. Pukul 18.45 kami melangkah pelan namun pasti. Setelah beberapa langkah dari pintu rimba senterku rada rese. Kadang redup kadang berbinar. Sedangkan adikku memang tidak bawa senter sih karena keberangkatannya mendadak hahaha.


Perjalanan malam itu begitu gelap. Hujan sudah reda. Namun tetesan air jatuh dari pepohonan cukup deras. Track yang kami lewati tidak begitu terjal. Berupa setapak tanah dan basah. Lalu kami memasuki kawasan hutan bambu, kemudian semak-semak, hutan bambu lagi, kemudian semak-semak, begitu terus selanjutnya. Di semak-semak jalurnya agak tertutup karena gelapnya malam. Tiba-tiba saja senterku macet tidak bisa nyala sama sekali. Padahal baterai sudah aku ganti dengan yang baru. Malam itu gelap seketika. Terkadang cahaya kunang-kunang menghampiri. Namun, kami tidak panik dan tidak surut nyali. Aku berpikir cepat dan dinamis. Langsung saja kunyalakan senter flash hapeku. Dan ternyata nyala sangat terang. Alhamdulillah, hapeku sempat ku install senter flash. Jika tidak? Entah apa yang terjadi. Hanya bisa menunggu ketidakpastian pendaki lain datang, menunggu bantuan dan mengabari basecamp bahwa kita mengalami musibah senter mati. Hahaha rasanya sangat memalukan. Lagi pula, tidak mungkin langsung mendirikan tenda di tengah jalur, bersemak-semak, lembab dan berair ini karena rawan binatang seperti ular atau pun pacet penghisap darah.



Dengan disinari senter flash hapeku, lebih baik kami tetap lanjut mendaki setidaknya sampai post 1 untuk menghemat baterai hape dan tenaga kami. Di tengah perjalanan itu kami bertemu rombongan yang turun. Kami bertanya lokasi post 1. Ternyata masih jauh. Bukannya menyurutkan semangat, hal itu malah membuat kami semakin semangat sampai di post 1 hehehe. Tepat pukul 19.50, kami sampai di post 1 yang ditandai oleh shelter. Langsung saja kami mendirikan tenda disini. Kemudian masak mie dan ngopi-ngopi. Entah, kenapa Aku merasa perjalanan tadi lebih lama dari waktu yang sebenarnya. Apakah kami memasuki dimensi ghaib? Hahaha entahlah, berpikir positif thinking saja. Dan aneh juga si ranger yang gemuk dan gondrong itu mengomentari senterku. Apakah dia dukun? Apakah dia sudah tahu sebelumnya bahwa kami akan mengalami kejadian ini? Hal itu masih terbayang-bayang di kepala hingga mimpi mengantarkan kami tidur malam yang panjang. Ditemani suara krik krik jangkrik, binatang malam, nyaringnya nging-nging serangga. Sempat juga ada suara gamelan sih (O,O).

Semakin larut malam dan menjelang pagi, ternyata semakin ramai pendaki yang tiba di post 1. Hal ini mengusik tidur nyenyak kami. Mereka pada berisik dengan logat khas jawa timurannya. Positif thinkingnya kami tidak sendiri hahaha. Positif thinking lainnya, dengan kejadian senter mati, kami bisa beristirahat lebih lama sehingga tidak terlalu capek mendaki J.

25 Desember 2016


Pukul 05.00, kami terbangun dan menyaksikan sunrise yang tertutup oleh Gunung Kawi. Langsung saja sholat subuh kemudian masak buat sarapan. Tak lupa kopi diseduh supaya tambah semangat mendaki ke Kawah Gunung Kelud. Pukul 06.10, kami mulai mendaki beriringan dengan pendaki yang masih pada abg-abg. Track yang kami lewati sudah lebar tak tertutup semak. Cukup terjal. Pukul 06.40 kami sampai di post 2 yang ditandai plang penunjuk. Disini terdapat tanah datar yang digunakan untuk ngecamp 1 tenda saja. Setelah beristirahat sejenak. Kami lanjutkan lagi. Jarak ke post 3 terasa lebih jauh. Di beberapa spot akan menemui jalur sempit dengan ilalang yang tinggi-tinggi. Setelah spot ilalang terakhir sampailah kami di tanah terbuka yang menandakan post 3 pada pukul 07.10. Sangat ramai yang camping disini hehe.




Pemandangan di post 3 sudah terbuka dan indah. Terlihat puncak-puncak terjal Gunung Kelud, 3 bukit lagi akan kami daki setelah jalur turun bukit post 3 ini, dikejauhan juga terlihat ada air terjun. Namun sangat sulit digapai karena jurang-jurangnya begitu dalam. Disisi lain pegunungan putri, Gunung Kawi, Buthak, Arjuno-Welirang yang kelak suatu saat kami daki, menyapa di kejauhan. Yeah, sungguh indah sekali.






Setelah naik turun 3 bukit sampailah kami di plawangan. Batas vegetasi dengan bebatuan dan pasir Gunung Kelud. Disini kami beristirahat cukup lama. Kemudian mengikuti jalur bebatuan yang melipir ke kanan. Harus hati-hati saat melewati jalur melipir ini. Agar tidak cedera akibat jatuh ke jurang. Sampailah kami di pintu kaldera menuju kawah. Pemandangan disini sangat keren. Tebing-tebing kaldera begitu indah dengan pahatan alaminya. Disini juga terdapat edelweis yang baru tumbuh. Tak begitu banyak memang, apalagi ini berada di ketinggian kurang dari 2000 mdpl. Tetapi sangat indah dan menarik. Tujuan kami tak hanya sampai sini saja. Kami harus ke melipir kanan untuk menuju kawah. Yeah, pukul 08.30 kami sampai di tepian kawah. Luar biasa pemandangannya Kawah Kelud. Akibat letusan dahsyat tahun 2014 lalu, kini membentuk danau berisi air berwarna hijau ke kuning-kuningan. Kondisi cuaca yang cerah dan panas terik tak bisa menyembunyikan keindahannya.








Cukup lama kami di tepian kawah hingga panas terik matahari mulai menyengat. Pertanda kami harus segera turun gunung. Perjalanan turun akan sangat berat. Selain panas, kami juga harus mendaki bukit dengan track terjal sebelum post 3. Kami beristirahat lagi di post 3. Lalu lanjut lagi ke post 1 dengan jalan cepat. Di post 1 kami langsung bongkar tenda dan packing turun gunung. Kami tiba di pintu rimba pukul 12.30. Di pintu rimba ini kami menunggu giliran ojek yang mengantarkan kami ke portal pendakian. Kenapa aku menyebutnya portal pendakian? Yeah, karena hanya terdapat portal, gubuk istirahat para ranger, lahan parkir dan bangunan milik perhutani saja, dan bangunan tersebut itu hanya bisa digunakan emperan dan kamar mandi luarnya saja hehe. Semoga, kedepannya dibangun fasilitas seperti bangunan permanen yang bisa digunakan untuk beristirahat dan warung makan. Kasihan pendaki yang datang dari jauh terlantar seperti kami ini :D.







Siang hari, setelah kami mandi, turunlah hujan dengan derasnya. Beberapa pendaki yang sudah turun nekat pulang menerobos derasnya hujan. Mungkin karena domisilinya dekat J. Sedangkan kami harus menunggu lama hingga hujan reda di gubuk parkiran motor. Sungguh terlantar nasib kami ini :D. Kami tak sendiri. Kami ditemani oleh pendaki arek Blitar. Sebut saja namanya Doni. Tak segan, dia menawari nginap di rumahnya. Bahkan rumahnya bisa dijadikan basecamp sementara jika suatu saat kami berada di Blitar atau akan mendaki Gunung kelud lagi. Yeah, mungkin jika suatu saat Gunung kelud meletus lagi, kami akan kesini lagi untuk melihat keindahan dan perubahan yang terjadi akibat letusannya. Karena setiap meletus pasti kondisi kaldera dan kawahnya berubah. Dan rumahmu akan kujadikan basecamp sementara bro. Nomor hapemu sudah aku save hehe J.

Setelah maghrib, hujan sudah benar-benar reda. Kami pamit untuk melanjutkan perjalanan lagi dengan tajuk Road Tour Sunrise of Java J.

Salam Jun_krikers J