Nyumbing ke SUMBING #1
Nekat. Sebuah kata yang aku
sematkan pada diri seorang wanita yang pernah kukenal. Gita. Dia teman sependakianku
waktu mendaki Gunung Ungaran dulu. Saat itu aku lagi penat akibat tugas kuliah,
butuh uang banyak untuk KKL ke Bali dan waktu yang mepet karena sebentar lagi
Bulan Ramadhan. Berawal dari BBM-nya
yang menyatakan kerinduannya akan sebuah ketinggian. Aku memproklamasikan
niatku untuk mendaki Gunung Sumbing yang belum pernah aku daki sebelumnya.
Akhirnya diputuskan pada hari rabu tanggal 25 Juni 2014 akan mendaki Gunung
Sumbing 3371 mdpl. Tepatnya selang sehari setelah aku pulang KKL dari Bali dan
3 hari sebelum puasa. Dia tertarik untuk ikut dan dia akan bolos kuliah katanya.
Wah wah nekat juga ya? Tak habis pikir. Saat itu kuliahku masih libur satu
minggu karena minggu tenang sebelum UAS. Yeah ini juga pendakian penutupan
sebelum waktu libur mendaki saat puasa. Sebelumnya aku sempat mengajak teman
kuliahku untuk bergabung mendaki Gunung Sumbing tapi dengan alasan yang kurang
logis dia membatalkannya. Ah sudahlah yang penting aku jadi mendaki juga karena
Gita tidak keberatan jika mendaki berdua saja. Bahkan dia percaya kalau aku
bisa menjaganya. Oke fix.
Persiapan yang cukup mendadak dan
kondisi keuangan yang melilit tak mengarungi langkahku untuk menepati janji.
Pada hari-H Gita naik bus menuju Semarang. Aku menjemputnya di depan Swalayan
Ada Banyumanik. Pertemuan singkat langsung saja menuju kostku di Tembalang
untuk mengambil beberapa keperluan dan setelahnya menuju tempat penyewaan rumah
keong ke Sekaran Unnes. Rumah keong sudah didapat dan dipacking secara rapi. Pukul
15.00 Kami berangkat ke basecamp Gunung Sumbing yang terletak di daerah kledung
perbatasan Kab. Temanggung dan Kab. Wonosobo.
Melewati beberapa kota dalam provinsi, dari
Ungaran-Ambarawa-Temanggung-Parakan hingga akhirnya sampai di Pasar Kledung
sebelum maghrib. Di Pasar ini kami sarapan dengan menu Penyet Lele dan Ayam.
Selesai sarapan kami beranjak menuju basecamp Sumbing yang sudah dekat. Jika
kamu di jalan raya dari arah Temanggung langsung lurus kearah Wonosobo. Sebelum
turunan kledung yang curam dikiri jalan terdapat Bank BRI Garung. Kemudian
masuk jalan desa tersebut nanti kiri jalan ada basecamp Sumbing sekitar 200
meter saja dari jalan raya. Yeah kami tiba di basecamp yang rupanya cukup ramai
pendaki. Ada yang berniat untuk naik maupun beristirahat karena sudah turun.
Tibanya di basecamp aku tidur saja untuk mengumpulkan energi alam dalam bentuk
penyesuaian suhu. Aku dan Gita berencana mulai mendaki pukul 20.00 malam.
Pukul 19.30 aku terbangun. Kami
persiapkan segala peralatan untuk mendaki. Jerigen 5 liter andalanku sudah
terisi penuh buat bekal hidup karena di Gunung Sumbing ini tidak ada sumber
air. Setelah membayar registrasi pendakian dan berkonsultasi tentang track
Gunung Sumbing pada penjaga basecamp, kami memilih jalur lama via Garung. Kami
juga mendapat sebuah peta yang diberikan oleh penjaga basecamp. Tepat pukul
20.00 malam yang cerah, seperti biasa kami registrasi kepada Tuhan agar
diberikan keselamatan pendakian. Kami mulai mendaki, headlamp dan lampu senter
mulai bercahaya. Pertama melewati jalanan makadam di tengah desa kemudian belok
kiri ke arah perkebunan tembakau milik warga. Sebelum perkebunan terdapat makam
dan aku agak merinding sih sedikit hehehe. Track makadam di tengah perkebunan
tembakau ini sangat curam dan agak membosankan bagi lutut yang kopong karena
harus melewatinya sejauh 3 km sampai post 1. Mungkin jika pendakian dilakukan
pada siang hari sangat melelahkan dan membosankan hahaha. Beberapa kali Gita
meminta beristirahat dan aku mengamininya karena kasihan jika terlalu memporsir
tenaga. Soalnya perjalanan masih panjang Bung!
Tak terasa sudah 2 jam kami
berjalan santai sampai akhirnya di post 1. Kami beristirahat agak lama di post
1 sambil menikmati siluet hitam Gunung Sindoro serta kelip lampu malam kota
dibawahnya. Otot betis hampir beku, kami harus berjalan lagi supaya tidak kaku.
Untuk sampai post 2, kami harus berjalan menerobos hutan dengan menyusuri jalan
setapak tanah yang licin sehabis hujan kemarin. Gita kusuruh jalan di depanku
karena jika dia kepleset dan menggelundung ke bawah, aku bisa menahannya. Banyak
percabangan memang, tetapi sama-sama sampai pada titik pertemuan jalur. Deru
angin terdengar mengaung-ngaung keras. Kulihat bagian puncak Sumbing sudah tak
tampak lagi disertai kilatan-kilatan cahaya, sepertinya akan terjadi hujan
badai. Kami percepat langkah supaya dapat mendirikan rumah keong di post 2.
Pukul 00.00 malam kami sampai di post 2 yang sudah penuh untuk oleh pendaki
yang mendirikan rumah keong. Dengan terpaksa kudirikan saja rumah keong kami di
tengah jalur pendakian hahaha. Sudah sangat tidak mungkin mencari lahan di atas
ataupun di bawah karena hujan sudah rintik-rintik mencapai gerimis. Rumah keong
sudah berdiri, kini giliranku yang masak di teras dengan menu mie instan dan
minuman kopi susu hangat. Setelah menyantap habis masakanku, kami langsung
tidur saja tak banyak cakap karena besok perjalanan masih panjang. Hujan sangat
deras disertai angin kencang, aku dan Gita pun terbangun. Yeah alhasil rumah
keong kami kebanjiran -_-. Terpaksa kami tidur dalam balutan jas hujan
masing-masing -_-. Dan anehnya kami bisa tidur meskipun kebanjiran :p.
Kamis 26 Juni 2014 pukul 06.30. Pagi
ini langit murung namun banjir telah surut. Aku terbangun gara-gara bisik-bisik
tetangga pendaki yang melakukan aktivitas masak-memasak. Aku pun tak mau kalah
berkompetisi. Kupersiapkan alat memasakku. Lalu kubangunkan Gita agar ikut
membantu. Kami memasak mie, sarden, dan kopi susu. Yeah meskipun sederhana
tetapi memiliki cita rasa lebih nikmat dari biasanya :p. Setelah cacing perut
berbahagia mendapat asupan gizi, kami langsung membongkar rumah keong dan mempackingnya.
Ada hal lucu kulihat tentang apa yang dilakukan oleh beberapa anak sispala yang
menjadi tetangga kami di post 2. Yeah beberapa anak sispala itu dengan
congkaknya menggosok gigi menggunakan pasta giginya setelah mereka makan.
Bukankan itu sama saja mencemari lingkungan? Bukankah sispala itu termasuk
orang yang terdidik untuk mencintai alam? Sesaat aku langsung mengejeknya tapi
tak digubris juga. Aku dicuekin tapi aku tahu dalam benaknya. Mereka pasti
sedang memakiku dan menahan malu tetapi tidak dapat diungkapkan dengan
kata-kata mereka sendiri. Seperti sesuatu yang menahan mereka saat sembelit :p.
Yeah mungkin benar, mereka sedang sembelit setelah kenyang makan karena kulihat
mereka berbaris jongkok :p.
Aku dan Gita melanjutkan
pengembaraan untuk menuju tempat yang lebih tinggi. Kami berjalan menyusuri
lorong perdu hutan yang tak lagi lebat. Di penghabisan hutan Sumbing ini jalur
setapak menjadi sangat terjal dan licin sehabis hujan semalam. Terkadang aku
ulurkan tanganku untuk sekedar membantu Gita melangkah. Sangat lamban sekali
kami melangkah. Seperti keong yang membawa rumah keongnya. Yeah tak dipungkiri
kami istirahat cukup lama di post 3 berupa tanah lapang. Di selanya terdapat
pohon yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Ada pula pendaki yang mendirikan
rumah keongnya disini. Kami menyapanya sambil TOMBRO (Tolong Fotoin Mas Bro).
Cuaca begitu cerah sehingga kami bisa memandang Puncak Sumbing yang bergerigi
seperti bibir sumbing. Di sebelah utara terlihat Gunung Sindoro mencakar langit
dengan gagahnya meminta untuk digagahi.
Cahaya matahari mulai membakar
kulit kami yang dekil karena belum mandi. Pertanda kami harus melanjutkan
pengembaraan lagi. Jalur setapak mulai
licin karena berpasir. Sebentar saja kami telah sampai di Pestan (Pasar setan).
Kami beristirahat lagi di sini. Ada beberapa pendaki yang mendirikan rumah
keong maupun bivak. Pestan? Pasar Setan? Aku tak begitu mengerti mengapa
dinamakan demikian mistis dan mengerikan? Yeah pasar adalah tempat yang ramai
digunakan untuk aktivitas jual-beli sedangkan setan adalah makhluk tak kasat
mata yang suka mengganggu keimanan umat manusia. Jika disangkut-pautkan maka
dapat disimpulkan mungkin tempat ini adalah tempat ramai aktivitas jual-beli
bagi setan-setan penghuni Gunung Sumbing yang terkadang mengganggu umat
manusia. Dalam kacamata modernku aku bertanya tentang apa yang mendasari si
pemberi nama Pestan tersebut. Dan itu masih menjadi misteri sampai saat ini. Yeah
ada-ada saja dan tak masuk akal. Namun dalam kacamata purbaku aku mengerti
maksudnya. Barangkali maksud si pemberi nama Pestan adalah kita harus menjaga
sikap dan perbuatan serta berhati-hati jika kita berada di Pestan. Lokasi
pestan berada pada punggungan bukit yang terbuka dan rawan longsor. Angin
kencang dapat dengan mudahnya menubruk benda yang menghalanginya. Banyak bekas
pohon atau juga tanah terbakar akibat tersambar petir. Di sisi lain, di Pestan
inilah tempat camp favorit bagi pendaki Gunung sumbing karena memiliki
pemandangan yang indah. Jika kita ceroboh dan berlaku congkak dapat berakibat
fatal. Dengan dasar demikian maka nama yang terkesan mistis dan mengerikan
diberikan karena masih banyak masyarakat yang percaya terhadap
takhayul-takhayul. Kita memang harus tak percaya terhadap takhayul, bukan untuk
menghujatnya ataupun ditakuti tapi kita harus menemukan maksud baik di balik
takhayul itu.
Aku dan Gita melanjutkan
pengembaraan lagi. Track licin berpasir dan terjal cukup menyulitkan langkah.
Cuaca sungguh galau. Adem-Panas-Adem-Panas. Terkadang kabut membutakan mata.
Terkadang matahari menyengat membakar kulit. Seperti kegalauan Gita. Dia mulai
merengek tidak begitu jelas seperti orok menangis tiba-tiba saat malam hari.
Keringatnya bercucuran lebih dari biasanya. Dia mulai lelah. Aku harus memberi
wejangan-wejangan yang memudarkan kegalauannya. Wejanganku tak berhasil. Tapi
aku tahu maksud dari kegalauannya. Aku dengan sigap membawakan ransel galaunya.
Aku berkata,”Aku Kuat”. Kulihat dia senyum tanpa dosa atas kemenangannya. Huft.
Kini aku harus berjalan dengan membawa 2 ransel. 1 ransel yang masih setia di
punggungku sedari tadi dan 1 ransel hasil selingkuhan di badanku. Yeah Gita
telah diselingkuhi oleh ransel yang sedari tadi di punggungnya. Aku tersenyum
karena sesungguhnya aku yang berhasil memenangkannya. Aku berjalan bagai robot
perkasa melewati cadas-cadas terjal batu di Komplek Pasar Watu. Gita berjalan
tanpa beban dibelakangku. Terkadang kami juga berhenti untuk bernafas santai
sampai akhirnya di Persimpangan Pasar Watu. Sebuah persimpangan yang jika lurus
maka akan buntu di sebuah jurang dan jika berbelok ke kiri akan menuju Watu
Kotak. Kami belok ke kiri melipir setapak yang menurun. Di Sebelah kiri kami,
jurang menganga bagai buaya mangap siap menerima lemparan bangkai ayam oleh
pawangnya di penangkaran. Sedangkan di Sebelah kanan kami, tebing raksasa
Gunung Sumbing menyimpan misteri pada ukiran alamnya. Kulihat Gita yang sangat
kepahayan untuk melangkah. Tenaganya tinggal 0,05 watt, barangkali. Aku berniat
untuk terus berjalan saja dan mendirikan rumah keong di Watu Kotak yang
berjarak cuma 1 jam saja ke puncak. Tapi apa boleh buat. Aku harus mendirikan
rumah keong segera mungkin setelah melihat lahan datar daripada Gita pingsan di
tengah jalan. Rumah keong telah berdiri di bawah ukiran tebing nan indah. Di
dekatnya terdapat goa yang kecil, hanya muat untuk dua orang saja. Ada juga
pohon edelweiss yang bunganya sudah mekar berwarna kuning dan putih. Waktu menunjukkan pukul 10.30 cuaca masih
galau saja sedari tadi. Kami masak seadanya saja. Setelah makan kemudian kami
istirahat tidur. Rencananya akan summit ke puncak nanti sore atau besok pagi
sambil menunggu cuaca yang selalu galau.
Siang pukul 13.30 cuaca tak lebih
galau daripada tadi pagi. Aku terbangun oleh sayup-sayup suara pendaki yang akan
naik menuju puncak ataupun turun berhasil mencapai puncak. Kutawarkan Gita
apakah siap melanjutkan pengembaraan menuju puncak dan melihat sunset. Ternyata
dia siap. Oke fix. Rumah keong dan beberapa barang bawaan yang tak begitu
penting ditinggalkan. Kami berjalan mengekor di belakang rombongan yang katanya
dari Temanggung. Merekalah yang menjadi teman sependakian kami saat itu juga
karena tak ada rombongan lain. Sepertinya mereka adalah sispala yang ngecamp di
post 2 bersama kami semalam tapi aku tak begitu memerhatikannya karena saat aku
mencemoohnya tentang sikat gigi, aku masih keadaan belum fresh bangun tidur.
Tidak begitu jelas muka mereka hahaha. Yeah sudahlah yang lalu biarlah berlalu.
Kami berjalan menapaki batuan-batuan cadas lepas Gunung Sumbing setelah
melakukan semi rock climbing pada tebing yang tingginya sekitar 4 meter.
Berjalan cukup santai susul menyusul dengan mereka. Setibanya sampai Watu
Kotak, cuaca berubah menjadi sangat gelap. Awan mulai menghitam. Angin juga
berhembus cukup kencang. Tak lama kemudian dewa langit menumpahkan hujan dengan
derasnya disertai kemarahannya membuat petir menyambar disana sini. Yeah kami
tertahan di dalam goa bawah Watu Kotak. Dengan persiapan matang, kami membalut
tubuh dengan jas hujan masing-masing. Hujan deras disertai petir begitu lama.
Memupuskan harapan kami untuk mencapai puncak Sumbing. Kami harus menunggu
sampai harapan itu muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar